Inflasi: Ketika Nilai Uang Kita Terus Menyusut Tanpa Kita Sadari
Beberapa waktu lalu beredar sebuah iklan lawas Honda tahun 1974. Dalam iklan itu, harga motor baru tertera hanya Rp43.000. Jika melihat angka tersebut dengan kacamata hari ini, rasanya seperti sebuah lelucon. Dengan gaji bulanan masyarakat modern — katakanlah rata-rata Rp25 juta — maka secara nominal kita bisa membeli:
Rp25.000.000 ÷ Rp43.000 ≈ 581 unit motor
Kalau hitungannya seperti itu, mungkin sekarang kita semua sudah jadi pemilik showroom motor.
Tentu saja kenyataannya tidak begitu — dan di sinilah inflasi memainkan perannya.
Nilai Nominal vs Nilai Riil Uang
Banyak orang masih mengira bahwa uang itu netral: Rp100 ribu hari ini sama nilainya dengan Rp100 ribu lima tahun lalu. Tapi kenyataannya tidak demikian.
Nilai nominal adalah angka yang tertera pada uang.
Nilai riil adalah daya beli uang tersebut — seberapa banyak barang yang bisa dibeli.
Uang yang sama secara nominal belum tentu sama nilainya secara riil. Dalam contoh motor Honda 1974, jika nilai uang tidak pernah berubah (inflasi = 0%), maka gaji Rp25 juta hari ini memang bisa membeli lebih dari 500 motor. Namun kenyataan menunjukkan harga motor hari ini rata-rata di atas Rp20 juta — sehingga gaji yang sama hanya cukup membeli satu atau dua motor saja.
Inilah bukti betapa jauhnya nilai riil uang merosot akibat inflasi.
Inflasi: Si Perampok Diam-diam
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dari waktu ke waktu.
Dampaknya: daya beli uang kita berkurang.
Contohnya:
- Tahun 1974, harga motor Rp43.000
- Tahun ini, motor tipe sederhana berkisar Rp20–30 juta
Artinya harga motor melonjak hingga ratusan kali lipat.
Dengan kata lain, uang Rp1 pada tahun 1974 tidak sama nilainya dengan Rp1 hari ini. Nilai uang melemah — bukan “lemah syahwat”, tentu saja… hehe.
Perbandingan Untuk Memudahkan Memahami Inflasi
Mari kita rangkum:
1. Gaji saat ini vs harga motor saat ini
→ hanya mampu membeli 1–2 unit motor.
2. Gaji saat ini vs harga motor tahun 1974 (jika inflasi = 0)
→ mampu membeli ±581 unit motor.
Perbedaan yang sangat jauh ini menggambarkan betapa besar dampak inflasi terhadap kehidupan kita. Setiap tahun, tanpa kita sadari, inflasi menggerogoti kemampuan kita membeli barang yang sama.
Mengapa Inflasi Terjadi?
Beberapa penyebab utama:
1. Biaya produksi meningkat
Harga bahan bakar, bahan baku, atau biaya tenaga kerja naik.
2. Permintaan meningkat
Jika permintaan barang tertentu melonjak, harga ikut naik.
3. Perluasan jumlah uang beredar
Ketika uang di masyarakat lebih banyak, nilai setiap rupiah menurun.
4. Nilai kurs dan komoditas global
Harga minyak dunia, nilai tukar dolar, dan faktor global lainnya turut mempengaruhi harga barang dalam negeri.
Inflasi Bukan Sekadar Teori Ekonomi — Ini Dampak Langsung ke Hidup Kita
Inflasi memengaruhi banyak aspek kehidupan:
- Tabungan semakin tidak bernilai jika tidak diinvestasikan.
- Gaji naik, tapi harga barang naik lebih cepat.
- Aset nyata seperti tanah, emas, atau properti naik karena nilai uang turun.
- Perencanaan keuangan jangka panjang menjadi semakin penting.
Tanpa memahami inflasi, kita merasa “uang kita cukup,” padahal sebenarnya kemampuan membeli terus berkurang sedikit demi sedikit.
Penutup: Kenapa Kita Perlu Melek Inflasi?
Melihat contoh iklan motor 1974 adalah cara sederhana untuk menyadarkan diri bahwa:
➡️ Uang bukan hanya angka—tapi daya beli.
➡️ Inflasi adalah proses alami, tapi bisa “merampok” nilai uang tanpa terlihat.
➡️ Tanpa strategi keuangan yang baik, kita bisa kalah oleh waktu dan inflasi.
Jadi, memahami inflasi bukan hanya untuk ahli ekonomi.
Ini adalah pengetahuan dasar agar kita bisa bertahan dan sejahtera dalam jangka panjang.

